30 May 2016

Kilau Malam


Kau tau, malam ini langit cerah.
Sayang kau tak disini.
Kerlip menari dilangit bersama sang luna.
Di iringi musik malam dari angin.
Aku menikmati pertunjukan mereka.
Dengan sebuah bayang.

Kau tau, sang luna telah terjaga dari tidur panjangnya.
Meski tak utuh.
Namun tetap bersyarat teduh.
Ku harap dapat menyimpannya lewat kata.
Mungkin kau dapat membacanya.
Saat sang luna terlelap.

Kau tau, baru saja panah cahaya melewatiku.

14 May 2016

Sang Gadis Pendosa dan Kerlipnya



Kembali melewati jalan setapak yang sama.
Sebuah kenangan yang terlampau mengiris waktu.
Berupaya menguap paksa sang air mata.
Memberikan rasa malu pada ilalang di seberang.

Benalu itu mencoba membenci dirinya sendiri.
Hatinya tak terpisahkan tapi juga tak melekat.
Hatinya menahan kuat tapi juga serapuh Dandelion.
Hatinya gelap pekat tapi juga punya satu kerlip cahaya.

Dialah sang benalu, dialah seorang gadis pendosa.
Meskipun langit gelap, satu kerlip cahaya tak pernah menyerah.

09 March 2016

Kecup Sang Waktu


Awan hitam mengiringiku pulang.
Memintaku menatap mata langit yang hendak menangis.
Ilalang-ilalang berbisik untuk menetap.
Jalan yang kutapaki menahan langkah kecilku.
Bahkan matahari pun tak setuju.

Piknik bersamamu sore itu masih hangat dalam kepalaku.
Sentuh, genggam, pelukmu masih hangat dalam tubuhku.
Kita tak bisa menghindari kutukan sang waktu.
Kecup sang waktu berharga juga mahal.
Sebab itu ia menjadi musuh utama kita.

Kelak kita tidak akan berada disatu meja yang sama.

20 February 2016

Kutuk Teruntuk Ratu Pesta


Kau hebat, kaulah elok yang paling jahat.
Sungguh, aku ingin menyelamatimu dengan pelukan hangat,
hingga kau akan mendengar tulang-tulangku retak.

Kau hebat, kaulah sosok indah yang paling kejam.
Sungguh, aku ingin memahkotaimu dengan sedih,
yang paling mahal yang pernah aku teteskan.

Kau hebat, kaulah paras yang paling bengis.
Sungguh, aku ingin membuatkanmu sebuah kalung,
yang paling indah yang terbuat dari butiran airmataku.

18 February 2016

Ruang Pilu




Bagai mengunjungi kota tua.
Lorong-lorongnya menyapaku dengan kesepian.
Aku dan langkahku bertegur hampa.

Bisu juga sunyi sangat menyatu di dinding-dindingnya.
Debu-debunya membisik lirih.
“Kemana kau selama ini?”

Berdiri lagi ku di ambang pintu ini.
Pintu bercat merah yang telah kusam.
Kenop pintunya sedingin es saat ku putar.

Di ruang itu gelap,
cahaya matahari tak dapat menggapainya.
Tapi tak perlu cahaya untuk merasakan pilu di ruang itu.

 
Powered by Aishi♥