09 March 2016

Kecup Sang Waktu


Awan hitam mengiringiku pulang.
Memintaku menatap mata langit yang hendak menangis.
Ilalang-ilalang berbisik untuk menetap.
Jalan yang kutapaki menahan langkah kecilku.
Bahkan matahari pun tak setuju.

Piknik bersamamu sore itu masih hangat dalam kepalaku.
Sentuh, genggam, pelukmu masih hangat dalam tubuhku.
Kita tak bisa menghindari kutukan sang waktu.
Kecup sang waktu berharga juga mahal.
Sebab itu ia menjadi musuh utama kita.

Kelak kita tidak akan berada disatu meja yang sama.

20 February 2016

Kutuk Teruntuk Ratu Pesta


Kau hebat, kaulah elok yang paling jahat.
Sungguh, aku ingin menyelamatimu dengan pelukan hangat,
hingga kau akan mendengar tulang-tulangku retak.

Kau hebat, kaulah sosok indah yang paling kejam.
Sungguh, aku ingin memahkotaimu dengan sedih,
yang paling mahal yang pernah aku teteskan.

Kau hebat, kaulah paras yang paling bengis.
Sungguh, aku ingin membuatkanmu sebuah kalung,
yang paling indah yang terbuat dari butiran airmataku.

18 February 2016

Ruang Pilu




Bagai mengunjungi kota tua.
Lorong-lorongnya menyapaku dengan kesepian.
Aku dan langkahku bertegur hampa.

Bisu juga sunyi sangat menyatu di dinding-dindingnya.
Debu-debunya membisik lirih.
“Kemana kau selama ini?”

Berdiri lagi ku di ambang pintu ini.
Pintu bercat merah yang telah kusam.
Kenop pintunya sedingin es saat ku putar.

Di ruang itu gelap,
cahaya matahari tak dapat menggapainya.
Tapi tak perlu cahaya untuk merasakan pilu di ruang itu.

Sebuah Tangis Langit


Hujan datang kembali.
Mengapa kau menangis wahai langit?
Rindukah kau pada sang bulan?
Sering kali kutemukan rintik membawa kenang di keningku.

Hujan ini, aku dapat merasakan sedihmu wahai langit.
Ataukah ini kesedihanku sendiri? Ah, entahlah.
Sengaja kubiarkan hujan membasahiku.
Agar air mata ini tertutupi.
Agar meluruhkan sesak di paru-paruku,
yang sedari tadi mencoba meremukan tubuhku.

Meski hanya dinaungi rintik hujan, tapi kenangan turun bagai badai.
Menciptakan ombak hebat di laut kepalaku.
Menciptakan angin yang mampu menghancurkan setiap dinding kepalaku.

16 February 2016

Berziarah dengan Rindu ke Makam Waktu


Malam sunyi menyelimutiku.
Sejuk angin berebut mengusap air mataku.
Langit berubah pilu.
Ketika penaku menulis rindu.

Aku kenal kesunyian ini.
Biarkan rindu mengalir diantara memori,
Agar bayangmu menghujam kembali.
Menemaniku sepanjang malam ini.

Merindumu adalah berziarah ke makam waktu.
Aku disapa dingin yang menyerbu,
Beserta sakit yang melulu.
 
Powered by Aishi♥