23 March 2015

Gelap? Hantu? Siapa takut?!

Aku seorang gadis kecil yang masih berumur 5 tahun. Saat itu aku sudah duduk di TK nol besar. Di umurku yang masih sangat kecil aku telah berani tidur di kamar yang terpisah dari ayah dan ibu. Dan kejadian itu telah memberiku pelajaran indah.
Tepatnya saat malam minggu. Seperti rutinitasku biasanya, aku bermain bersama teman-teman sepermainanku tidak jauh dari rumah.
“eh, kita cerita-cerita yuk!” ajak kak Laras. Dia adalah salah satu temanku yang umurnya diatas umurku. Kemudian aku, kak Laras, Sella, Panji, dan juga kak Wulan duduk melingkar di teras rumah kakLaras.
“cerita apa sih kak?” aku memulai pembicaraan.
“aku punya cerita seram loh, mau dengar nggak?” kata kak Laras antusias.
“apaan?! apaan?!” Panji yang pertama penasaran dengan cerita kak Laras.
Kak Laras memulai ceritanya “aku kan dapat cerita dari temanku katanya ada tukang ojek yang ngebonceng kuntilanak!” wajah kak Laras tampak serius sekali. Mendengar nama hantu yang sudah terkenal itu aku jadi merinding.
“akh masa sih kak?” Sella merespon.
“iya bener loh. Jadi katanya tukang ojeknya itu cuma dibawa muter-muter doang, nggak nyampe-nyampe kerumah cewek yang diboncengnya itu. Terus tiba-tiba cewek yang dibonceng tukang ojek itu hilang waktu ngelewatin kuburan. Hiii, seremkan?!” kak Laras selesai bercerita.
Aku terdiam membayangkan cerita kak Laras. Umurku yang masih sangat kecil itu membuatku lebih mudah menyerap apa yang aku dengar.
“temanku malah pernah melihat langsung. Katanya waktu itu dia melihat bayangan putih waktu listrik mati” kini kak Wulan yang bercerita.
Sekarang aku jadi berfikir. Bagaimana kalau hantu itu muncul didepanku, menampakan dirinya, dan menggangguku? Aku bergidik ngeri.
Tak terasa telah larut malam, aku dan teman-temanku kembali kerumah masing-masing untuk beristirahat. Dikepalaku masih terngiang cerita seram yang sepertinya akan membuatku tidak bisa tidur.
Ternyata itu benar, aku tidak bisa memejamkan mataku sama sekali. Kamarku yang diberi lampu redup membuat ketakutanku semakin memuncak. Aku tak bisa lagi membendung ketakutanku, akhirnya aku keluar kamar dan mengetuk kamar ayah dan ibu. Aku ingin meminta ayah atau ibu menemaniku tidur.
“ayah, temani aku tidur ya?” aku merengek pada ayah. Ayah tampak bingung melihatku, mungkin karena baru kali ini aku meminta ditemani tidur.
“kamu kenapa?” tanya ayah bingung.
“aku takut tidur sendiri yah” aku jujur pada ayah. Tapi ternyata ayah tidak mengabulkan keinginanku. Ayah menyuruhku untuk kembali kekamarku dan bergegas tidur. Namun aku tidak menghentikan usahaku. Sekarang aku mendekati ibu, membangunkannya dengan halus, lalu mengatakan keinginanku.
“ibu, temani aku tidur ya?” aku kembali merengek.
Tapi respon ibu malah menyuruh aku meminta ayah. “minta ayah aja sana” begitu kata ibu. Yah, sekarang aku benar-benar bingung bagaimana aku harus tidur sedangkan ketakutan merajai pikiranku.
Kembali aku membangunkan ayah. Aku merengek terus-menerus, membuat ayahku terganggu di tidur malamnya. Setelah aku merengek terus menerus tanpa henti akhirnya ayah turun dari ranjangnya dan keluar kamar. Aku senang akhirnya ayah mau menemaniku tidur. Tapi ternyata dugaanku salah. Ayah tidak menuju kamarku melainkan menuju pintu depan, aku benar-benar bingung dengan ayah.
“ayah mau kemana?” tanyaku. Tapi ayah hanya diam seribu bahasa lalu pergi keluar rumah yang suasananya begitu sunyi, dingin, dan gelap. Sekarang benakku bertanya-tanya. Ayah mau kemana? Apakah ayah marah karena aku terus menerus merengek pada ayah? Aku tidak ingin jadi anak durhaka yang membuat orang tua marah.
Tanpa berfikir panjang aku mengikuti ayah dari belakang. Jarak antara aku dan ayah hanya beberapa langkah. Aku tak berani berjalan di samping ayah, saat itu aku tau diriku salah. Ayah terus berjalan menelusuri satu gang ke gang yang lain. Tempat yang ayah lewati memang tempat yang sangat aku kenal hanya saja suasananya begitu gelap dan sunyi.
Aku tidak lagi dilanda ketakutan akan hantu-hantu yang muncul dalam suasana gelap seperti ini. Saat ini yang aku pikirkan adalah ayah, aku benar-benar takut jika ayah marah dan aku akan dicap anak durhaka. Siapa sih yang mau dirinya dicap anak durhaka? Pastilah tidak ada yang menginginkan itu.
Aku tidak tahu kemana tujuan ayah, aku hanya tetap mengikuti dari belakang. Lama sekali aku mengikuti ayah, entah sudah jam berapa sekarang. Sampai akhirnya aku merasa kaki kecilku ini berat untuk melangkah dan mataku ingin aku pejamkan. Aku lelah dan yang kubutuhkan sekarang adalah istirahat.
Pada akhirnya aku berhenti mengikuti ayah lalu kembali pulang kerumah. Aku sendirian melewati tempat-tempat sunyi dan gelap, tapi pikiranku tidak kepada hantu-hantu seram yang diceritakan teman-temanku tadi. Semua pikiranku focus kepada ayah.
Sesampainya di rumah jam sudah menunjukan pukul 12 lewat. Karena aku telah lelah berjalan aku langsung menuju kamarku dan tidur dengan nyenyak tanpa ketakutan yang merajai pikiranku. Semua hilang begitu saja karena lelah.
*****
Jam bekerku berdering, melaksanakan tugasnya membangunkanku. Aku mematikan jam bekerku lalu mengumpulkan nyawaku yang masih ada dalam mimpi semalam. Setelah benar-benar sadar aku teringat ayah. Aku turun dari ranjangku dan keluar dari kamar. Kemudian aku menemukan ayah dan ibu yang telah bangun dan sedang duduk berbincang di ruang tamu.
“kesini sebentar sayang” panggil ibu halus.
“kenapa bu?” tanyaku sambil duduk di samping ibu.
“semalam kenapa kamu nggak mau tidur sendiri” ayah angkat bicara. Aku masih merasa bersalah dan takut menatap wajah ayah.
Aku menunduk, memainkan jari-jari tanganku dipangkuan lalu menceritakan kejadian semalam yang menyebabkan aku takut.
“jadi gara-gara cerita seram kamu takut tidur sendiri?” tanya ayah.
“iya yah” jawabku yang masih tertunduk lemas.
“dengar ya sayang. Hantu atau setan nggak akan mengganggu orang-orang yang beriman. Kamu kan sering sholat dan mengaji sama ibu dan ayah, maka mereka akan takut pada kita yang sering beribadah” kata ibu manjelaskan.
“benarkah itu bu?” tanyaku sambil menatap ibu tak percaya.
“tentu saja. Kita tidak seharusnya takut kepada hantu atau setan, yang harus kita takuti adalah Allah dengan cara menjauhi larangannya dan mentaati setiap perintahnya dengan begitu kita tidak akan diganggu oleh hantu atau setan” jelas ibu panjang lebar.
“jadi kalau aku rajin beribadah aku nggak akan diganggu hantu bu?” tanyaku lagi.
“iya, betul. Sekarang kamu mengertikan?” aku menganggukan kepala sambil tersenyum.
“masa sih takut gelap. Kan ada lagunya” kata ayah.
“apaantuh yah?” tanyaku penasaran.
jangan takut akan gelap, karna gelap melindungi diri kita dari kelelahan” ayah melantunkan lagu Tasya yang terkenal itu. “lagi pula waktu kamu sendirian pulang kerumah kamu nggak kenapa-kenapakan melewati tempat-tempat gelap” lanjut ayah.
Hmm, benar juga ya kata ayah. Sekarang aku mengerti kenapa ayah keluar rumah semalam. Ayah ingin menunjukkan kalau gelap, hantu, dan sepi itu tidak perlu di takuti. Untuk apa takut gelap dan juga hantu kan ada Allah yang selalu melindungiku. Sekarang pemikiranku berubah.“Gelap? Hantu? Siapatakut!”

No comments:

Post a Comment

 
Powered by Aishi♥