17 April 2015

I Want To Live With You

Namaku Junpei, umur 20 tahun, aku tinggal di satu apartemen di Tokyo yang baru-baru ini ku pindahi. Ini adalah pengalamanku dengan orang yang ingin mati, orang yang kehilangan harapan hidup. Apa kau pernah ingin mati? Aku tidak pernah terpikirkan tentang itu. Tapi aku pernah membuat orang lain ingin mati.
***
“oke, internet sudah tersambung. Huh, sepertinya sudah semuanya dibenahi, apartemen baru siap semua. Ahh waktunya bersantai” aku menyalakan rokok ku, dan mulai menjelajahi dunia maya. Setelah aku mendengar berita tentang bunuh diri massal di sebuah acara berita pagi, tanpa sadar aku mengetik “bunuh diri massal” dalam pencarian google, si mbah digital yang tau segala macam hal.
“woooohhh” banyak sekali hasil yang muncul. Aku tertarik kepada salah satu blog yang menunjukan suatu pengumuman.
Aku membuka link tersebut dan melihat papan pengumuman yang berketerangan “hanya orang yang benar-benar ingin mati, isi formulir ini” dibawahnya ada keterangan pencarinya “perempuan, 17 tahun, tokyo”
“hah, 17?!” aku tersentak kaget, bagaimana bisa anak remaja berumur semuda itu berpikir ingin mati?
Disana ada link menuju home pagenya, aku membukanya dan melihat isi posnya setiap hari yang menunjukkan hal yang sama, kesedihan hari-harinya. Di backgroundnya ada foto langit biru yang indah
Hmm, aku jadi penasaran mengapa dia ingin mati. Aku akan mengiriminya sebuah e-mail.
Nama: Pria, 20 tahun.
Pesan: salam kenal, foto langit yang indah. Aku ingin ngobrol denganmu.
 Tanpa ragu ku klik send. Oke. Huh, tak terasa hari sudah malam. Aku lelah, saatnya istirahat. Aku berbaring di kasur dan masih memikirkan anak perempuan itu. 17 tahun berarti siswi SMA. Kenapa ingin bunuh diri? 17 tahun…..
“Mana?! Serahkan uangnya sekarang juga!” anak lelaki di depanku menunduk dan memberikan uangnya semua padaku. Aku bagai raja di SMA, aku bisa membentak siapapun dan mendapatkan yang aku mau.
“hanya segini yang kau punya?! Jangan main-main kau!” aku menjambaknya dan aku dapat melihat matanya yang terpejam dan mengeluarkan air mata ketakutan. Aku merasa puas melihat anak-anak ketakutan seperti itu.
“huh, mati saja kau!” aku menendang dadanya hingga ia jatuh tersungkur di tanah. Aku dan teman-teman satu geng ku menertawakannya.
Beberapa detik kemudian, ia mencoba sekuat tenaga untuk duduk, kepalaya tertunduk sehingga membuat poninya menutupi sedikit wajahnya namun dapat kulihat dari sela-sela poninya matanya memandang tajam kearahku masih dengan sisa-sisa air mata di ujung matanya. Dan dia berkata dengan suara yang sangat parau namun dapat ku dengar, “aku akan mati”.
“Kriiiiiiiing!” suara alarmku berbunyi sangat keras dan menyelamatkanku dari mimpi buruk seumur hidupku.
***
“huh, harus kerja paruh waktu lagi” aku lemas. Sekarang aku sedang berada di kafe kecil tempat aku dan sahabatku biasa nongkrong berdua.
“siapa yang mau mentraktirmu tiap hari?! Tentu saja kau harus kerja Junpei!” dia sahabatku, Naoki.
“soalnya ibuku menyuruhku keluar karena sudah 20 tahun…kejam kan? Hiks” aku menunjukan wajah memelasku walau tak akan mempan karena wajahku yang sangar ini.
“jangan nangis…hmm dengan wajah sangar begitu pasti susah dapat kerja”
“benar, dulu dengan wajah sangar ini…”aku mengingat masa lalu saat-saat aku bisa mendapatkan semua yang kumau, “yah, itulah masa lalu”.
Tiba-tiba Naoki berdiri dan mengepak bawaannya. “hey kau sudah mau pulang” aku masih merasa bad mood hari ini.
“iya, aku ada urusan. Nanti ku kirim gambar seksi, hehe” dia tersenyum nakal.
“haha makasih” aku tersenyum kecut. Aku ngga butuh gambar!
Aku kembali ke apartemen setelah kerja paruh waktuku selesai dan langsung membuka e-mail. Hmm ada e-mail dari alamat yang tak dikenal. Aku membukanya dan ternyata dari perempuan itu, perempuan 17 tahun yang ingin mati.
Kepada pria 20 tahun di Tokyo.
Boleh, ayo kita ngobrol.
Kutunggu di depan patung seikyou di taman Ueno, jam 1 siang besok.
1 Desember.
Wah, sekarang tanggal 2 Desember. Sebentar lagi jam 1. Mendadak nih, walaupun sebetulnya aku ada keperluan lain, tapi…
Aku telah berada tepat di lokasi. Aku menunggunya, kupikir tak akan memakan waktu lama. Tapi…1 jam, itu bukan waktu yang sebentar. Oke, aku butuh kesabaran, mungkin menunggu sebentar lagi taka apa.
2 jam kemudian, oh Tuhan aku beku! Jangan-jangan aku ditipu?! Oleh gadis berumur 17 tahun?! Sudahlah aku pulang saja. Aku lemas. Saat aku beranjak ingin pulang, aku baru ingat dari tadi orang yang di dekat taman pun juga dari tadi tak beranjak dari tempatnya dia berdiri sejak aku menunggu. Sepertinya dia pria, memakai topi dengan syal belang-belang dan juga jaket dan celana dan menenteng tas di bahu kirinya.
Aku mendekatinya dan menyapanya. “kau juga dibiarkan menynggu ya? Perempuan memang suka seenaknya saja ya?” aku yakin wajahku sekarang ini menunjukan harapan agar ditemani.
Pria itu tak member respon, maka aku pergi dan langsung pulang. Huh, ingin mati apanya? Aku bodoh menganggapnya serius. Aku kembali ke apartemen dan kembali membuka e-mail. Hmm, ada 1 surat baru. Ternyata dari gadis itu.
Perempuan, 17 tahun, Tokyo.
Terima kasih sudah datang.
Aku sangat senang. Maaf aku ngga menyebutkan nama.
Boleh ku e-mail sesekali?
Senang? Boleh ku e-mail? Apa ini? Rupanya ia datang tadi. Aku membalas e-mailnya.
Tentu saja, e-maillah kapan saja. Aku pekerja paruh waktu yang nggak tau
masa depanku seperti apa, aku baru datang ke Tokyo.
Kirim. Gawat, sepertinya aku juga senang. Lalu kami mulai berkirim e-mail, dan mengobrol. Dia juga sepertinya sudah percaya padaku karna dia memberitahukan namanya. Namanya Sachi. Aku senang, dia yang ingin mati mulai membuka hati untukku.
Suatu hari dia mengirimiku e-mail yang isinya.
Dear Junpei
Aku sering dikerjai teman-teman.
Tapi nggak bisa bilang ke orangtuaku dan nggak bisa bolos sekolah.
Sedih rasanya…
Hatinya, sepertinya terbuka untukku. Dan aku membalaskan e-mailnya.
Dear Sachi.
Terima kasih telah bercerita kepadaku.
Jangan pedulikan orang-orang itu.
Kalau kamu terus hidup pasti ada hal baik.
Bersemangatlah!
Oke, kirim. Aku rasanya ikut bersemangat.
Tapi, beberapa hari kemudian dia tidak membalas e-mailku.
“apa?! Kau bilang begitu?! Itu sok ikut campur!” aku menceritakannya pada Naoki dan mendapatkan ceramahannya. “tapi kalau dicuekin ya sudah. Kau itu dianggapnya bawel”
“iya ya” aku lemas. Aku tak ingin membuatnya semakin sedih yang kuharapkan Sachi akan berkata “benar ya. Berkat kamu semangat hidupku muncul”
“bodoh! Abaikan saja. Kau ada wawancara kan?” Naoki menyemangatiku. Yah mungkin dia benar. Mungkin Sachi bukan jalanku.
Ngga ada lagi e-mail baru darinya. Iya, memang nggak ada hubungannya denganku. Dan aku juga sudah mulai kerja sekarang. Iya, lupakan saja.
Hah, dari tempat kerja bisa jalan kaki ke Ueno. Brrr, dingin banget, sepi pula. Memang sedang dingin-dinginnya sih. Jadi pantas saja nggak ada…orang.
“loh?” aku melihat seorang gadis dengan seragam sekolahnya sedang duduk di bangku taman. Wajahnya memancarkan aura kesedihan yang sangat, matanya sembab dan merah. Tapi yang paling menonjol dia tak memakai kaos kaki dan sepatu di cuaca yang sedingin ini. Tiba-tiba pandangan kami bertemu. Dia langsung bangkit dari bangku dan ingin pergi setelah melihatku. Tunggu! Syal itu…tas itu, jangan-jangan orang yang waktu itu!
“Sa…Sachi! Aku Junpei!” aku berteriak memanggil gadis itu. Dia berhenti, menoleh dan memandangku. Aku mendekatinya. “tunggulah di bangku sebentar, berapa ukuran sepatumu?”
“37” katanya dengan suara parau yang bahkan hampir tak terdengar karna suara angin lebih kencang dari suaranya.
“oke, tunggu sebentar disini, aku akan kembali, jangan kemana-mana” aku mendudukannya kembali kebangku. Dan aku berlari secepatnya ke toko sepatu yang terdekat dari taman untuk membelikannya sepasang sepatu.
“ini buatmu, ambilah” aku menyodorkan bungkusan berisi sepasang sepatu.
“ma…makasih” suaranya terdengar lebih baik. Mungkin dia sudah lebih baikan dari sebelumnya.
Aku memperhatikannya sejenak. Ternyata dia benar-benar dikerjai. “hei, kenapa kau lepas kaos kaki? Nggak dingin?” aku memperhatikan dia diam dan tidak merespon pertanyaanku. Lalu aku ingat perkataan Naoki, “itu sok ikut campur”. Aku langsung menambahkan dengan cepat “ah maaf, kalau ngga mau jawab ngga apa-apa”
Sachi menundukan wajahnya “Kalau kaos kakiku kotor…nanti ketahuan ibu” kami diam seribu bahasa, “aku…ingin mati saja” dia memecahkan kesepian dengan kata-katanya yang membuatku makin membisu.
Aku memandang Sachi. Ingatanku kembali pada kejadian SMA tahun kedua.
“aku akan mati” setelah kata-kata itu…
Aku sedang bermain PS saaat itu, tiba-tiba temanku datang dan membawakan berita buruk itu. “gawat, Junpei! Dia potong nadi dan bunuh diri! Sekarang dibawa kerumah sakit!”
“aku akan mati”
“aku akan mati”
“aku akan mati”
“aku akan mati”
Hentikan!!!
“hei, kalau aku terus hidup pasti ada hal baik…itu kapan?” dia membuyarkan lamunanku.
“i…itu…” aku tak tau apapun. Aku tak mengerti apapun.
“kenapa…kenapa aku harus hidup?” dia mulai mengeluarkan air matanya. Basa-basi orang yang menghibur, ngga mungkin dimengerti orang yang ingin mati. Apalagi aku yang mengatakannya.
“itu…aku juga ngga tau… tapi, akan kutemani kau mati Sachi” inilah yang bisa kulakukan. “ayo kita mati sekarang”
***
Aku membawanya ke perbukitan sepi dengan mobil yang kusewa. Setelah sampai di lokasi, aku langsung merekatkan lakban pada setiap sela-sela kecil dimobil agar mobil menjadi kedap udara dan penuh asap dari arang yang dibakar.
“ini obat tidurnya” aku menyodorkannya obat tidur. “jadi selagi tertidur,kita mati keracunan asap”
Glekh! “nah sudah kuminum, giliranmu” Sachi mengambil 1 butir obat tidur dan menelannya.
“Sip, sekarang tinggal tidur”
“Jun..aku disukai pacar sahabatku. Dia mengajakku pacaran. Selama ini aku juga suka dia. Tapi dia pacar sahabatku aku ngga mau pacaran dengannya. Setiap hari aku bertemu dia saat menunggusahabatku ikut klub. Aku merasa bersalah. Saat kuputuskan ngga akan bertemu lagi, dia mengecupku disaat terakhir dan ketahuan. Besoknya aku mulai dicuekin teman-teman sekelas. Tapi…yang paling menyedihkan, lelaki itu ikut cuek padaku. Junpei, aku akan mati sendiri.aku akan mati sendiri” Sachi sudah berlinangan air mata.
“aku…aku pernah mengerjai orang. Ya, kupikir aku jadi kuat dengan mengerjai orang, ngga peduli apa alasannya. Kami main-main hingga orang itu memotong nadinya. Parah kan? Dia sampai sekarat. Aku…terus-terusan minta maaf padanya” loh kenapa aku menceritakan ini dihadapan gadis 17 tahun sambil mengeluarkan air mata seperti ini? Menjijikan!
“Maaf”
“Maaf”
“Maaf”
“Maaf”
Aku terus mengatakannya hingga kesadaranku menghilang.
Uh, apa ini air menetes didahiku, hujan kah? “uwaaa!” ternyata itu air mata Sachi. Tapi…”loh kenapa tiba-tiba diluar mobil?” aku kebingungan.
“aku takut, aku ngga bisa mati…aku ngga bisa…” air mata Sachi terus menerus keluar.
Aku meraih bahunya, dan memeluknya.  “iya, ngga ada orang yang bunuh diri karena ingin mati. Kau bukan ingin mati, tapi ingin bahagia”
***
“hahahaha, dasar kau! Lecet segitu ngga bakal bikin mati!” Naoki tertawa terbahak-bahak.
“hah, apa kau bilang?!” aku tak percaya dengan kata-katanya.
“aku ngga mau mati. Cuma mau menghukummu sedikit karena kau terlalu kurang ajar. Seru ya! Kupukul 30 kali, lalu kita berteman” Naoki masih tertawa.
“maaf…” aku tertunduk lemas. Masih mengingat kejadian SMA saat Naoki memotong nadinya dan sekarat dirumah sakit karena aku mengerjainya.
“lupakan saja…sekarang kita sahabat kan?” Naoki tersenyum kecil.
“iya…” aku membalas senyumnya.
“oh iya, kapan kau akan memberitau Sachi soal itu…” deg!, Naoki mengingatkanku tentang itu.
“hmmm itu…”
“aku sudah tau kok” tiba-tiba Sachi muncul dari belakangku. Aku kaget setengah mati. “obat yang kau beri itu bukan obat tidur kan” Sachi menyodorkan bungkus obat kemarin yang jelas bertuliskan ‘bukan obat tidur’ didepan bungkusnya. “Terus arang yang dibakar itu buatan jadi ngga akan mati, ya kan?” aku langsung gugup, merasa bersalah. “tapi, masa minum obat ini kamu benar-benar tertidur sih?” celetuk Sachi dan membuat semua tertawa.
“i, i, i, itu…aku ngga bermaksud menipumu…” aku gemetaran dan tertunduk lemas.
“aku tau kok kamu bukan ingin menipuku” Sachi tersenyum, manis sekali.
“eh foto siapa itu?” Naoki menunjuk foto yang dipegang Sachi, seorang gadis berambut hitam yang sedang bermain basket terpampang disana.
“itu sahabatku” katanya dengan senyum gembira, “sejak itu, kami pelan-pelan bicara dan hubungan kami mulai membaik” jelas Sachi.

Syukurlah Sachi mulai mendapatkan kempali semangat hidupnya. Yah, meskipun kau bertanya padaku untuk apa harus hidup. Sesungguhnya aku juga tak mengerti jawabannya. Pasti nanti akan ada lagi hari menyedihkan sampai aku ingin mati. Tapi setidaknya sekarang, aku bersyukur terus hidup karena bisa melihat senyummu yang menyongsong masa depan.

No comments:

Post a Comment

 
Powered by Aishi♥