09 April 2015

Like We Used To

“Maaf” Lala mengucapkan kata terakhirnya, kemarin sore, hanya itu satu kata yang bisa ku dengar dari semua kata-katanya.
Aku mencoba untuk tenang, dan mencoba untuk mengerti. Tapi justru aku semakin masuk kedalam ketidak mengertian atas semua ini. Dan kenanganku kembali kepada 14 bulan 7 hari yang lalu.
Saat itu hujan turun, aku dan dia berada dimobil. Aku mengantarnya ke rumah dari pesta prom akhir tahun di SMA. Mobilku telah berhenti di depan rumahnya, tapi aku masih memegangi tangannya tak ingin dia pulang lebih cepat.
“Key, sampai kapan kau akan memegangi tanganku? aku harus pulang” katanya lembut.
“tunggulah sebentar lagi, kalau kau pergi aku akan gila” kataku merengek.
“kamu berlebihan, tapi…baiklah” Lala tersenyum, sungguh manis.
“ada hal yang ingin ku katakan…hmm sudah lama aku ingin mengatakan ini”
“oke, aku mendengarkan”
“hmm sebetulnya…” lidahku seakan kelu.
“ya…” Lala mendekatkan wajahnya tidak sabar.
Aku memegangi tangannya lebih erat “sebetulnya…aku sudah lama suka kau La, sejak saat kita bertemu dikelas 1. Jadi… hmm bolehkah aku mendapat kehormatan untuk jadi pacarmu?”
Lala tertegun tapi tersenyum, lebih manis dan indah. Tapi dia tidak menjawab apapun, aku mulai panik. Tiba-tiba dia mulai mendekatkan wajahnya. Lalu mengecup bibirku. Sekejap, namun terasa abadi. Aku tersentak kaget. Tapi dia hanya tersenyum dan berkata. “tentu saja boleh”
Sejak saat itu, semua hari terasa sangat indah.
“Plung…” suara batu kecil yang ku lempar mendarat dan masuk kedalam danau. Pandanganku kosong ke danau, kenangan di danau ini bersamanya juga tak bisa ku kubur. Tiba-tiba pandanganku kabur, ah sialan! Aku langsung berlari dan menceburkan diri ke danau. Aku berenang hilir-mudik terus menerus. Beberapa orang yang sedang santai siang ini di dekat danau memandangku aneh. Aku tak peduli. Aku sedang meminta pada danau kecil ini untuk menerima air mata ini.
Aku naik kembali dari danau, masuk kembali ke mobil. Aku tak mempedulikan pakaianku yang basah dan menyisakan jejak titik-titik air. Danau ini mengembalikanku kepada kenangan itu.
Malam itu setelah makan malam kami pergi ke danau yang telah sepi dari aktivitas-aktivitas manusia. Aku memarkirkan mobilku dekat danau.
“ayo berenang” ajakku.
“kamu ngaco ya? apa airnya ngga dingin?”
“jangan khawatir, setelah tantangan ini kita langsung ke apartemen, ayo bersenang-senang sebentar” kataku meyakinkan.
“baiklah” akhirnya Lala menyerah dan ikut.
Kita bersiap. “satu…dua…tiga…” aku menggandeng Lala dan melompat berdua. Dingin sekali tapi kita tertawa-tawa karna itu. Hanya beberapa menit kemudian, kita menyerah pada rasa dingin. Aku dan Lala langsung masuk ke mobil dan menghangatkan diri. tidak cukup dengan sebuah handuk dan selimut. Aku mengemudikan mobil menuju apartemennya.
Aku menggendongnya menuju kamar. Kami berbaring berdua. Bisa kurasakan nafasnya saat dia terlelap disebelahku. Kita berbagi bantal dan kaki yang dingin karna berenang tadi. Aku bisa merasakan detak jantungnya, dan kurasa ia juga merasakan jantungku yang terpompa lebih cepat dari biasanya. Kami tertidur nyenyak dibawah selimut dan sprei yang hangat.
“tiin…tiin…tiin…” sebuah klakson mobil membuat ku sadar dari lamunanku. Ternyata sudah lampu hijau. Aku kembali mengemudikan mobilku. Seketika aku melihat postur tubuh dan rambut panjang terikat yang familiar sedang duduk diam di bangku taman menyendiri memandang taman-taman. Itu Lala!
Aku langsung menghentikan mobilku dipinggir. Turun dari mobil dan menghampirinya.
“Lala” sapaku dengan senyum yang kupaksakan berkembang.
“oh Key. Hai” dia menatapku canggung. “sedang apa kau?”
“aku hanya sedang berjalan-jalan didaerah sini mencari udara segar” kataku mencoba tersenyum dan berbohong, padahal aku sedang menggalau.
“oh, duduklah disini, disini nyaman” katanya menepuk bangku disebelahnya.
Aku mengambil duduk disebelahnya. Dan mencoba untuk bersikap santai.
“hey ada apa dengan pakaianmu, kenapa basah seperti ini?” dia baru menyadari pakaianku yang basah.
“tak usah dipikirkan” kataku tersenyum paksa “boleh aku bertanya sesuatu padamu La?”
Lala menunjukan wajah yang kurang setuju. “hmm baiklah, ada apa?”
“aku masih tak setuju dengan pilihanmu lusa itu, apakah kau tidak memikirkannya kembali sekali lagi untukku?”
“aku benar-benar minta maaf Key” Lala tak menatapku.
Aku menatap matanya. “Apakah dia benar-benar serius padamu? Apakah dia menonton film kesukaanmu? Apakah dia mendekapmu saat kau menangis? Apakah dia membiarkanmu bercerita tentang bagian kesukaanmu disaat kau sudah menontonnya jutaan kali? Apakah dia menyanyikan musik kesukaanmu saat kau berdansa di bawah siraman lampu ultraviolet? Apakah dia melakukan semua itu seperti yang dulu kulakukan?” mataku sudah mulai berkaca.
“Key…..” Lala menatapku dengan pandangan bersalah.  “aku…sungguh tak tau”
“hmm baiklah” aku memegangi kedua lengannya dan mulai mendekatkan wajahku padanya “akankah dia mencintaimu seperti aku mencintaimu? Akankah dia bilang padamu setiap hari? Akankah dia membuatmu menjadi kuat dengan tiap kata yang dia ucapkan? Bisakah kau berjanji jika ini adalah hal yang benar, jangan kau buang. Bisakah kau lakukan semua itu? Akankah kau melakukan semua itu? Seperti yang kita lakukan dulu?” aku tak bisa membendung air mataku.
“Key…aku…minta maaf” mata Lala mulai berkaca-kaca. “aku sungguh minta maaf, aku tau kau tak bisa memaafkanku. Aku wanita yang jahat, kau terlalui baik Key, kau sungguh lelaki yang luar biasa. Dan kurasa ada seseorang yang lebih pantas untukmu.” Lala menatapku bersungguh-sungguh. “maaf aku harus pergi, dia sudah menjemputku” Lala menoleh pada mobil dibelakang tak jauh dari bangku taman.
Lala bangun dari bangkunya dan pergi. Aku memaku, memandang punggungnya yang mulai menjauh itu. Masih ku lihat rambut indahnya yang panjang itu tertiup angin kecil. Hingga ia hilang masuk kedalam mobil. Bukan hanya hilang, ia benar-benar pergi. Pergi bersama lelaki lain.

No comments:

Post a Comment

 
Powered by Aishi♥