04 April 2015

Permen Karet

Insiden itu terjadi saat aku berumur 8 tahun. Saat itu aku masih bersekolah di Sekolah Dasar. Aku naik mobil jemputan untuk pulang pergi dari sekolah dan rumah.
Akhir-akhir ini di jemputan sedang ngetren makan permen karet. Ya, permen karet yang berbentuk bola kecil dengan warna yang bermacam-macam dan rasa yang bermacam-macam pula. Anak-anak senang sekali membentuk balon dengan permen karet itu. Dan jangan salah, aku juga termasuk anak di jemputan yang jago membuat balon besar dengan permen karet itu.
Satu hari dihari yang cerah dan normal, seperti biasa dengan rutinitasku bangun pagi dan berangkat ke sekolah dan bla bla bla. Jemputan sudah datang.
"Putiara, jemputannya datang!" mamah yang sedang melakukan rutinitasnya menyapu teras berteriak memanggilku yang telah menyelesaikan sarapan. Oke, waktunya berangkat.
"berangkat dulu, Assalammualaikum" aku menyalami dan mencium mamah dan papahku. Terlihat papah juga sepertinya telah bersiap untuk pergi bekerja.
"Walaikumsalam" balas semua.
Aku masuk ke mobil jemputan. Mobil sederhana yang sehari-hari telah mengantar-jemputku ke sekolah ini juga milik temanku, Balqis. Dia adalah salah satu temanku dari Taman Kanak-kanak. Ya, kami telah saling mengenal baik dari dulu.
"hari ini aku bawa permen karet banyak" Balqis menunjukan satu toples permen karet warna-warninya.
"hah?! banyak banget!"
"hehehe, buat nanti pulang" dia hanya tertawa dan tidak membagi tahu bagaimana dia
mendapatkannya sebanyak itu.
Sesampainya di sekolah, aku menuju kelasku dan memulai pelajaran seperti biasanya. Sekolahku ini adalah Sekolah Dasar Islam Terpadu. Tidak seperti sekolah negeri, sekolah Islam Terpadu mengimbangi pendidikan dengan pendidikan islam, dan mewajibkan murid perempuannya menggunakan kerudung. Waktu sekolahpun lebih panjang dari biasanya. Sekolah selesai sampai jam 3 sore. Ya, awalnya memang rasanya cape banget. Tapi lama kelamaan aku terbiasa.
Nah, setelah pulang dari sekolah, aku naik mobil jemputan kembali. Dan sekarang waktunya pesta permen karet!
Balqis membagikan permen karetnya ke semua anak di jemputan. Termasuk aku.
"ini put, permen karetnya" Balqis memberikanku 7 permen karet berwarna-warni.
"makasih" aku menerimanya dengan riang gembira. Kau tau bagaimana jadinya kalau kita memakan 7 permen karet sekaligus? Tentu saja kau dapat membuat balon besar! Semakin banyak jumlah permen karet yang kau makan, semakin besar pula balon yang kau buat.
Suasana jemputan kini berisik, mereka semua berlomba-lomba membuat balon yang besar, dan juga ada pula yang iseng meletuskn balonnya.
Oke, ini waktunya. Aku membuat balon, berkali-kali, dan selalu sebesar wajahku. Itu mengasikan saat balon yang kau buat lebih besar dari orang lain. Saking asiknya, aku tak mempedulikan sisa-sisa permen karet yang terkadang menempel di pipi atau kerudung saat balon meledak, karna sulit ku bersihkan.
Barulah aku sadar bahwa sisa-sisa permen karet itu ternyata lebih banyak dari dugaanku!. Aku takut mamah akan marah karna aku mengotori baju seragam. Kini mobil jemputan semakin dekat dengan rumahku dan aku belum juga bersih dari permen karet ini. Aku semakin panik, benar-benar panik! Aku takut mamah marah. Hanya itu yang ada dalam pikiranku.
Aku masih berusaha membersihknnya, kerudungku dan juga wajahku. Hingga mobil jemputan tepat berada didepan rumahku. Usahaku sia-sia, kerudung dan wajakhu masih dipenuhi banyak sisa permen karet. Akhirnya aku menutupi wajahku dengan kerudung yang terkena permen karet itu, sehingga aku seperti memakai masker. Aku turun dari mobil jemputan, lalu memandangi pintu depan dengan rasa takut.
"aaahhh haaaaaa" aku menarik nafas kuat-kuat dan membuangnya, mengumpulkan keberanin untuk masuk, masih dengan masker kerudung yang kubuat itu.
"Assalammualaikum" salamku dengan suara kecil, bahkan hampir tidak bersuara agar mamah tidak mendengar.
"Walaikumsalam" mamah menjawab, sialnya aku ternyata mamah tepat diruang tamu sedang menikmati majalahnya. "udah pulang. Loh kenapa wajahnya ditutup?" glek, habis lah aku.
"ga..gapapa kok mah" aku menjadi gagap.
"sini dulu, kenapa wajah kamu?" mamah mengulangi pertanyaannya.
Aku menghampirinya, namun tertunduk dan memegangi kerudungku yang ku jadikan masker itu.
"ada apa sih, coba buka dulu" mamah dengan lembut memintaku membukanya, tapi aku masih bergeming dan tetap memeganginya, bahkan sekarang lebih erat lagi.
"kamu kenapa sih? ayo buka" mamah mulai menaikan suaranya.
"ngga mau" itu kalimat pertama yang terlintas dan terlepas dimulutku, tapi wajahku masih tertunduk.
"hey ada apa sih?" mamah mulai menyentuh tanganku yang menggenggam erat kerudungku itu. Dan dengan respon yang cepat aku langsung menepis tangannya.
Saat ku lirik tampang mamah, wajahnya mulai menunjukan tampang marah dan tidak sabar.
"Aishi Rana Putiara! Cepet buka! Ada apa sih?!" setelah mendapat suara mamah yang membentak itu, aku tak punya pilihan lain selain melepas genggaman dikerudungku ini.
Akhirnya, ku tutup mata menahan tangis yang hampir keluar, dan membuka perlahan genggaman pada kerudungku. Sesaat aku tak mendengar mamah berkata apapun, dan saat aku membuka mata.....
"huahahahahahahahahaha" mamah tertawa terbahak-bahak. Ini respon yang tak ku duga. Mamah tertawa sambil memegangi perutnya. Aku hanya berdiri terdiam sambil terbingung-bingung.
"mamah ngga marah, bajunya kotor kaya begini?" tanyaku masih terpaku melihat mamah.
"hahaha, aduh harusnya kamu ngaca dan lihat gimana tampangmu sekarang, gimana mamah bisa marah dengan tampang kamu yang seperti itu. diwajahmu itu, hahaha apa sih itu? permen karet?" aku langsung menuju cermin, dan menyadari begitu banyak sisa permen karet diwajahku, sehingga membuat tampangku aneh.
Ya ampun, aku begitu takut mamah marah dan hampir saja nangis ketakutan dan ini respon yang ku dapat. Tapi syukurlah mamah ngga marah. Dan setelah itu mamah membantuku membersihkan semua sisa permen karet ini dan tertawa lagi setelah ku beri tahu bahwa aku sudah hampir menahan tangis karena aku takut dimarahi.
Papah yang malamnya pulang kerja pun langsung tertawa juga mendengar cerita mamah.
Hah, dasar permen karet!

No comments:

Post a Comment

 
Powered by Aishi♥