08 December 2015

Reuni Papa Membawa Cinta

“kamu kenapa sih, Ra?” tanya Lia sahabatku saat kami pulang sekolah. Kami sedang berjalan pulang dalam rangka menghemat ongkos. Ceritanya menabung untuk ganti HP.
“aku lagi sebel sama Papa, acara liburan ke Yogya selama seminggu ini jadi batal gara-gara Papa minta aku ikut ke acara reuninya di Bandung. Padahal aku udah buat jadwal kegiatan untuk di Yogya. Acara reuninya juga ngga tanggung-tanggung sampe tiga hari!” kataku dengan wajah bertekuk sepuluh.
“udahlah ngga usah dipikirin, masalah kecil kaya gitu aja dibuat besar” kata Lia menghiburku, “don’t think to hard, mending enjoy aja, Bandung juga oke ko”, lanjut Lia dengan wajah innocentnya.
Ketika jarak sudah hampir sampai rumahku. “Ra! siapa tuh didepan rumahmu?” suara Lia memecah keheningan.
Aku memandang kearah rumahku. Tepat didepan rumah nampak dua orang lelaki, kukecilkan kelopak mataku untuk mempertajam pandanganku. Itukan om Burhan teman Papa, terus siapa yg satu lagi, apa mungkin Andika anak om Burhan, manusia paling menyebalkan di dunia. Ya itu pasti Andika meski postur tubuhnya lebih besar tapi aku bisa mengenalinya. Ingatanku berkelana ke reuni Papa 5 tahun yang lalu, saat itu Andika adalah anak yang paling bandel yang selalu membuat ku ketakutan, dia selalu membawa-bawa cacing, ulat, kecoa, atau apa saja yang bisa membuat takut dan jijik, dia terlihat puas jika orang lain menjerit-jerit ketakutan, aku anak yang paling membenci Andika seperti benci dan takutnya aku pada cacing dan semua jenis serangga, sementara Andika paling suka sama aku karena aku anak yang paling takut ketika dia membawa-bawa serangga. Kini dia ada dirumahku, wait.....dirumahku!
“hayo! terpesona ya, liatnya sampai gitu amat” suara Lia membuat lamunanku buyar, “kenalin ya sama yang itu” Lia menunjuk Andika dengan dagunya.
“udah sana pulang” Lia kudorong dengan paksa kearah rumahnya yang kurang lebih tinggal 100m lagi.
“aku duluan ya, bye…” tanpa menunggu jawaban Lia aku berlari menuju rumah, sayup-sayup kudengar teriakan Lia, “janji ya Ra kenalin ke aku!” huh dasar Lia.
Ketika aku melintasi halaman rumah mataku sempat beradu dengan Andika tapi cepat-cepat kupalingkan, Aku masuk dari pintu belakang supaya bisa menghindar darinya. Dendamku padanya masih belum padam atas kejadian 5 tahun lalu saat kulihat dia tersenyum puas melihat aku gemetar bahkan menggigil ketakutan melihat kecoa yang disodorkan padaku, dendam itu makin dalam manakala orang-orang tau aku ngompol karena ketakutan. Aduh malunya sampai ke ubun ubun, saat itulah andika menjadi sosok yang mengerikan bagiku.
Aku mengendap-endap masuk kedalam rumahku sendiri seperti maling. Aku langsung berlari ke kamar, kurebahkan penat tubuhku kekasur, pikiranku berputar untuk membatalkan rencana ke Bandung, pergi bersama Andika hanyalah sebuah derita bagiku,  mendingan aku ke Yogya atau ngga ikut sekalian. Beberapa menit kemudian aku keluar, menemui Mama yang sedang sibuk di dapur.
“hai ma…”
“eh udah pulang toh, kok Mama ngga liat?” tanya Mama yang masih tetap dengan pekerjaannya.
“tadi Tiara lewat belakang terus langsung ke kamar. Malu lewat depan, ada tamu Papa” kataku sambil membantu Mama mempersiapkan makanan siang. “itu tamu yang Papa tunggu kan?” tanyaku basa-basi.
“iya, itu om Burhan sama anak laki-lakinya yang seumuran kamu itu….”
“namanya Andika” sambarku.
“eh masih ingat ya sama Andika” goda Mama.
“ngga bisa aku lupa sama dia, kesalahannya tuh sulit dimaafkan”.
“Tiara jangan terlalu benci nanti jadi cinta lho” goda Mama.
“Mama!” pekikku sambil cemberut. “Ma! aku nggak ikut reuni Papa ya, aku ingin ke Yogya kangen sama Mas Rakha, biar aku ke Yogya ya ma!” pintaku.
“kakakmu kan lagi sibuk banyak tugas, kalau kamu kesana pasti ganggu kuliahnya” jawab Mama.
“ya udah Tiara dirumah aja ya ma biar nanti Tiara minta Lia tidur sini” aku masih berusaha membujuk Mama.
“kamu sama Lia itu sama aja, ngga disiplin, sering terlambat makan, apa jadinya nanti kalau kalian ditinggal berdua aja”
“titipkan aja Tiara di rumah Lia pasti Mamanya Lia ngga keberatan, atau Tiara bisa makan di restoran padang atau Warteg juga ngga apa-apa ma, ya ma, please…..”
“Tiara! kamu diajak seneng-seneng ko susah banget”.
“Tiara kan sudah gede ma, malu dong gabung sama anak kecil-kecil kaya Gilang, Hilal, Sabine, dan lain-lain”
“itu Andika udah gede tapi dia ikut nemenin Papanya” balas Mama.
“aah dia sih orang aneh” sautku dengan muka masam.
“dia kan bisa kamu jadikan temen di sana, anaknya juga ganteng” rayu Mama.
”idih, ogah! ganteng-ganteng tapi suka makan kecoa” balasku.
“hey! Language young Lady!” hardik Mama.
”ya abis emang dia begitu”
“Tiara, Andika sudah gede pasti dia udah berubah” kata Mama berusaha membela Andika.
“tau dari mana Mama kalo dia berubah” tanyaku.
“coba kamu liat dia didepan sana, dia sopan ko ngga kaya dulu lagi” Mama mulai promosi.
Penasaran aku lihat dia dari cela lorong penghubung ruang tamu dengan ruang makan, kuperhatikan dia dari jarak 10 meter dan kupastikan dia tak melihatku yang sedang memperhatikannya. ”hmm iya sih memang dia ganteng” pujiku dalam hati. Tiba-tiba dia menoleh kearahku sambil tersenyum, secepat mungkin kutarik wajahku dari pandangannya tapi terlambat dia terlanjur melihatku, wajahku merah bak kepiting rebus menahan malu, jantungku berdebar 10x lipat. Aku semakin tak ingin ikut. Tapi aku sudah tak punya alasan lagi.
Akhirnya aku berhenti merengek. Aku mencoba mengubur kekecewaanku, karena kekecewaanku pasti akan mengurangi kebahagiaan Papa, Mama dan juga yang lainnya. Sambil membisu aku masih dalam aktivitas bantu Mama. Wajah Andika memang mirip om Burhan teman Papa yang paling good looking, hanya saja Andika punya nilai yang lebih karena usianya. Tapi membayangkan keisengannya rasanya ketampanan yang dimilikinya jadi tak berarti. Tapi seandainya kata Mama benar bahwa dia telah berubah.....aah ngga mungkin, karakter seseorang itu terbentu sejak lahir tidak mudah dan butuh waktu lama untuk merubahnya pikirku.
“ya udah kalau kamu ngga mau ikut nanti Mama kasih pengertian ke Papa” ucap Mama dengan nada putus asa, nampaknya Mama membaca kekecewaanku, “cuma kalo kamu mau ikut Mama akan minta Papa tambahin tabungan kamu biar kamu bisa segera ganti HP” Mama masih berusaha merayuku
“serius Ma?!” aku terkejut, nada bicaraku mungkin hampir berteriak.
”serius” kata Mama meyakinkanku.
“ya udah aku ikut ma” sahutku tanpa pikir panjang. Mama tersenyum puas melihatku meyerah. Biarlah, yang penting HP baru tergenggam. “Oh iya ma, kita pergi ke vilanya sebentar lagi kan?” kataku dengan nada yang tak sabar.
“iya” jawab Mama singkat, “kok kaya ngga sabar ya? padahal tadi ngotot ngga mau ikut” Mama tersenyum memandangku  dan menaikan kaca matanya yang agak turun.
“berubah pikiran kan ngga dosa ma” aku membela diri. Oh iya, dari pada aku sendirian mending aku ajak Lia, terus kalau reuninya ngga asik aku bisa pulang sama Lia. “Ma, boleh ngga aku ajak Lia ikut?” tanyaku agak ragu.
“hmm...Mama tanya Papa dulu ya, sekarang kamu beres-beres dulu sana”. Mama berjalan menuju ruang tamu untuk menyajikan makanan dan minuman untuk tamu. Aku segera menyiapkan pakaianku. Kubuka lemari pakaian lebar-lebar, lalu aku berenang kedalam lemariku memilah-milih pakaian yang akan kubawa. Setelah bersiap, aku menyisir rambut panjang kebanggaanku, kuikat tinggi sedangkan poninya kubiarkan menitupi dahiku.
Tok...tok...tok..., suara ketukan pintu mengagetkanku. “masuk...” teriakku dari dalam kamar. Pintu dibuka, ternyata Mama. “kamu boleh ajak Lia, cepat beri tahu dia” ternyata Papa membolehkan aku mengajak Lia. “tapi kalau Lia ngga mau ikut jangan dipaksa ya” pesan Mama sambil berjalan ke luar kamar.
Aku langsung menyambar HP-ku dan menelpon Lia. “halo, Lia” aku memulai pembicaraan.
“ada apa Ra?” balas suara diseberang.
“kamu mau ikut reuni Papaku ngga?” tanyaku to the point.
“kapan?”
“sekarang, nyesel lho kalo ngga ikut” rayuku.
“memangnya kenapa kalau ngga ikut?” Lia penasaran.
“anaknya temen Papaku yang ganteng tadi juga ikut”
“AKU IKUT!” teriak Lia membuat telingaku sakit.
“kalo gitu cepat beres-beres, nanti kamu masuk rumahku jangan lewat depan, lewat belakang aja, terus langsung ke kamarku” intruksiku pada Lia.
“OKE BOS!” Lia langsung menutup teleponnya. Begini nih kebiasaan sahabatku, kalau ada cowo cakep semangatnya kaya pejuang ’45.
Sudah 30 menit kutunggu Lia belum datang juga, ngapain aja sih tuh anak. Tiba-tiba dari luar kamarku suara Lia bembahana “Ra! Ayo buruan dah mau berangkat nih”.
Aku bergegas keluar, “kemana aja sih lama banget” kataku kesal.
“kamu tuh yang lama aku udah dari tadi ngobrol sama Mamamu dan Andika juga”
“dasar, bukannya ngasih tau dari tadi” protesku.
sorry, abis keasikan ngobrol hehe” Lia menunjukan deretan gigi rapihnya. “dia nanyain kamu terus tuh tadi” Lia menunggu reaksiku.
“bodo’ emang gue pikirin” balasku ngga peduli.
“eh Ra emang betul kamu musuhan sama Andika?” tanya Lia. Aku tak menjawab pertanyaan Lia. “cowo setampan dan sebaik kaya gitu dimusuhin, kamu ngga normal ya Ra?” protes Lia.
“kamu kan baru aja kenal dari mana bisa menilai Andika cowo baik” jawabku ketus.
“emang Andika kenapa Ra?”
“eh ayo cepet masuk mobil nanti ketinggalan” potongku.
***
Mobil kijang yang telah usang dimakan usia itu melaju dengan kecepatan sedang, setengah perjalanan telah dilampaui. Walaupun telah tua dan usang tapi mesin mobil ini sangat terawat. Papaku bilang inilah yang kita punya jadi sebaiknya kita rawat dengan baik, “tuh lihat mobil mewah aja bisa mogok, mending mobil ini ngga nyusahin” kata Papaku dengan bangga. Di belakang kemudi Papaku dengan santainya berbincang-bicang dengan om Burhan yang duduk disebelahnya, obrolan mereka seputar nostalgia selagi sekolah dulu. Sesekali aku menguping mereka, dari pembicaraannya terlihat jelas bawa Papa dan om Burhan bersahabat. Mereka sangat dekat dan saling membantu dalam kesulitan. Sementara ditengah ada aku, Lia dan Mama yang sedang mengerjakan aktivitasnya masing-masing. Lalu Andika tak terlihat kesal sedikit pun meski ia harus duduk di belakang bersama barang-barang bawaan.
Aku heran Andika yang dulu bawel, egois, bandel kini terlihat sangat tenang. Bahkan hanya sedikit kata-kata yang keluar dari mulutnya, itupun bila ada pertanyaan yang tertuju padanya. Ia lebih banyak tersenyum dan menjadi pendengar obrolan kami, “Dika ko diam aja” sapa Mama, “ajak ngobrol Tiara tuh” lanjutnya. Aku yang sedari tadi asik membaca komik tersentak kaget mendengar namaku disebut.
“iya nih dari tadi aku yang ngoceh, Tiara sama Andika kenapa sih ko diem aja?” Lia ikut-ikutan jadi pendukung Mama.
“Mama tuh sama Lia yang kenapa, orang ngomong ko dipaksa-paksa” sambarku ketus, Andika hanya tersenyum sambil melirik padaku, merasa diperhatikan aku jadi salah tingkah.
“Tiara, kamu denger ngga sih apa yang aku omongin tadi?” Lia berbisik kesal.
“ngga” jawabku sekenanya.
Lia mendekatkan bibirnya kedaun telinnggaku dan bicara setengah berbisik, “kamu liat tuh Andika, kasian dia sendirian”
“bukannya dari tadi kamu ngobrol sama dia, dia ngga terlihat bosan ko ngobrol sama kamu” bisikku pada Lia, mataku kembali menatap halaman-halaman komik yang ku pegang. Aku masih ngga ingin beramah-tamah dengan manusia itu, meskipun rasanya banyak yang ingin kutanyakan setelah sekian lama tak bertemu, telah 5 tahun perang dingin ini kulancarkan. Rasanya sudah cukup untuk memulai perdamaian namun sikap permusuhan yang terlanjurku lepas membuatku malu untuk memulai.
“maksudku itu kamu juga ikutan ngobrol sama kita dong biar seru” Lia masih bicara setengah berbisik padaku. Kemudian Lia melanjutkan obrolannya. Ku biarkan mereka berbincang-bincang meskipun hatiku cemburu karena Lia lebih memilih ngobrol dengan Andika.
Melalui perjalanan hampir 3 jam akhirnya sampai juga ke vila tempat acara. Vila ini bernama Katumbiri, menurut Papa Katumbiri adalah bahasa sunda artinya dalam bahasa Indonesia pelangi. Letaknya disebelah barat laut Kota Bandung, ketinggiannya lebih dari kota Bandung sehingga udaranya terasa lebih sejuk. Vila yang letaknya diatas bukit ini memiliki pemandangan yang sangat indah, bila malam hari terlihat kota Bandung Cimahi dan Padalarang bagaikan gugusan galasi. Lampu-lampu kota dan rumah-rumah penduduk yang padat memancarkan sinar bagai gugusan bintang sementara lampu dari kendaraan bagai meteor. Begitu yang kudengar dari sang penunggu Vila, menggambarkan keindahan pemandangan disini.
Vila ini di bangun 2 lantai. Setiap lantai terdiri dari 10 kamar dan setiap kamar bisa dihuni oleh 1 keluarga. Halaman vila cukup luas ditanami tumbuhan dan bunga khas daerah sejuk. Bunga-bunga bermekaran serempak membuat suasana vila makin terasa indah. Menurut perawat taman vila, tanaman disini tidak pernah berhenti berbunga.
Tidak semua peserta reuni yang direncanakan hadir dalam reuni ini sehingga kami leluasa memilih kamar, meskipun tak semua hadir acara reuni ini nampak semarak, mereka yang sudah lama tak bertemu kini berkumpul membawa banyak cerita, belum lagi cerita masa lalu mereka yang selalu asik untuk dikenang.
“kak Tiala, kak Tiala...” suara yang khas keluar dari mulut kecil mungil milik Gilang, anak Om Agus, teman Papa yang kemarin ikut survey pendahuluan ke vila ini. Anak kecil berusia 3 tahun ini sangat senang dengan perhatian yang ku berikan, tangan kecil Gilang langsung memeluk kakiku erat, dengan reflek aku langsung mengangkat tubuh mungil Gilang dan bibirku langsung mendarat dipipi cabinya yang menggemaskan. Aku tak pernah bosan-bosannya mencium pipinya yang seperti bakpau.  “Gilang…, aduh ayo makan dulu, disuruh makan malah kabur” pengasuh Gilang berlari-lari kecil menuju kearahku dan Gilang.
“ih…Gilang belum makan ya, ayo makan dulu nanti sakit loh” kataku memencet hidungnya.
“iya kak, tadi Gilang liat kak Tiala makanya Gilang kejal” bicaranya tak terlalu jelas dan masih cadel tapi cukup dimengerti olehku.
“ya udah sekarang Gilang makan dulu ya” kataku sambil menurunkannya dari gendonganku.
“OK DEH” katanya dengan senyuman manisnya. Aku sempat mencubit pelan pipinya sebelum ia pergi bersama pengasuhnya.
Dari balik pepohonan yang tak terlalu rimbun ku lihat  Andika berdiri memandangiku , entah dari kapan ia memperhatikanku bersama Gilang. Bibirnya seperti hendak menyungingkan senyuman kemudian tertahan tak selesai, entah kenapa kurasakan tingkah Andika misterius dan sulit diterka namun ku akui dia sudah berubah bahkan terlalu banyak berubah, tak berbekas sama sekali sifat-sifat buruknya dulu, aku ingin menghapirinya namun ragu, keinginanku untuk menghampirinya demikian kuat sama kuatnya dengan rasa malu bertemu dengannya, hal ini membuat dadaku bergetar hebat. Aku berharap Andika menghampiriku dan…..aah ada apa dengan diriku, kemana dendam yang telah kupupuk selama 5 tahun itu! Setelah sekian lama tertunduk ku beranikan diri menenggadahkan wajahku, mataku mengarah ketempat Andika berdiri memberanikan untuk bisa tersenyum padanya atau melambai padanya, tapi harapanku hilang ketika kusaksikan dia berbalik pergi.
***
Hari telah senja aku ingin sekali mandi, udara  dingin di vila ini tak menyurutkan keinginanku untuk membasuh seluruh tubuhku, rasanya perjalanan tadi menyisakan letih penat, pasti akan segera hilang dengan siraman air. Kutinggalkan Lia di kamar. Sekitar 5 menit aku menunggu giliran didepan kamar mandi, sayang vila yang demikian besar hanya memiliki 4 kamar mandi, 2 dilantai atas dan 2 lagi dilantai bawah. Mungkin pemilik vila begitu yakin orang yang datang kesini akan malas mandi karena udara yang sangat dingin, aku tersenyum sendiri mereka-reka argumen yang cocok kenapa hanya 4 kamar mandi untuk vila sebesar ini.
Tak sabar menunggu akupun teriak “siapa didalam?” tapi tak ada jawaban. Namun tak lama berselang pintu terbuka dan dari dalam kamar mandi munculah Andika, dia menggunakan kaos ketat yang meperlihatkan tubuhnya  yang atletis, dadanya bidang dan otot lengannya terlihat kekar. Aku segera berlari masuk kamar mandi dengan jantung yang berdebar-debar, sempat terdengar suara Andika menyebut namaku lirih “Tiara…” semenjak 5 tahun lalu ini  pertama kali Andika memanggilku, didalam kamar mandi aku berharap semoga Andika tidak tau kalau tadi aku sedang mengaguminya, namun lamunanku buyar mendengar suara lembut Andika dari luar “Tiara, kamu belum berubah ya…” perasaanku jadi ngga karuan, aah kenapa tadi tak kuhentikan langkahku, kata-katanya tadi terasa mengambang, seperti ada hal lain selain kata-kata itu.
Selesai mandi badanku terasa sangat segar hilang sudah letih penat dipejalanan tadi tersapu air dingin. Aku duduk disudut ruang makan, didepanku tepat ditengah ruangan ada meja besar tempat aneka hidangan makan malam disajikan, ruangan makan-makan telah penuh dengan peserta reuni dan keluarganya, anak-anak saling berebut mengambil makanan seolah-olah takut kehabisan, sementara sebagian orang tua asik ngobrol tak memperhatikan hidangan yang ada. Disampingku Lia lahap menyatap makanan kesukaannya sambel goreng ati, sementara aku sibuk mencari-cari sosok Andika diantara kerumunan peserta. Tak lama akhirnya kutemukan juga Andika, dia ada diseberang meja makan terhalang Om Burhan, Papa, dan kawan-kawannya yang asik ngobrol. Aku segera merubah posisiku agar terlihat oleh Andika.
“kamu ngapain aja sih lama amat makannya, ngelamun ya?” selidik Lia
“lihat aja sendiri lagi ngapain” balasku sambil kuteruskan makan.
“cari Andika yuk” ajak Lia tiba-tiba setelah nasi dipiringnya habis.
”ngga usah dicari, nanti juga muncul sendiri” balasku berbohong, Lia benar-benar tidak melihat Andika ada diruangan ini, kini aku takut Lia akrab dengan Andika.  Ingin sekali kukatakan pada Lia bahwa aku mulai menyukai Andika agar Lia tidak berusaha mendekati Andika. Menyesal kenapa tadi dimobil tidak memulai berdamai dengan Andika, kenapa pancingan Mama dan Lia untuk ngobrol dengan Andika tidak kusambut.
“aku bosen disini” kata Lia dengan wajahnya yang memang menampakkan kebosanannya. “Ra, aku mau cari Andika diluar ya” katanya, aku hanya mengangguk sambil menahan perasaan bersalah karena sesungguhnya aku tau Andika dimana, dia ada diseberang sana terhalang para bapak-bapak yang sekarang sedang ribut tertawa membicarakan guru killer mereka serta para korbannya.
“udah belum makannya?“ sapa Lia sekembalinya dari misi mencari Andika, pasti ngga berhasil pikirku.
“udah ko” jawabku.
“Ra kita keatas aja yuk” ajak Lia.
“memangnya di atas ada apa?” tanyaku.
“ikut aja” kubiarkan ia menyeret tubuhku menaiki anak tangga, sesampainya di balkon Lia berhenti, “tuh lihat” Lia menudingkan telunjuknya kearah jauh dibawah sana.
“wah!” benar kata penunggu vila ini, Bandung, Cimahi dan Padalarang terlihat bagaikan gugusan galasi. Lampu-lampu kota dan lampu rumah penduduk yang padat memancarkan sinar bagai gugusan bintang-bintang.
“gimana bagus kan, tadi sore aku keatas  melihat kota Bandung dari sini, ku kira kamu sudah lihat waktu ikut survey vila ini, makanya aku hanya ngajak Andika” penjelasan Lia membuat telingaku panas diudara dingin ini. Lia dan Andika kesini hanya berdua, keluhku dalam hati. Kini pemandangan itu tak nampak lagi. Pikiranku menerka-nerka ada apa mereka berdua kesini, apakah pendekatan Lia terhadap Andika sudah semakin jauh, kenapa ini harus terjadi saat hatiku mulai berharap.
Sudah hampir 15 menit aku dan Lia di balkon ini. Lia terus memamerkan kedekatannya dengan Andika. Aduh Lia udah dong, kamu bikin aku cemburu, keluhku dalam hati. Lia terus bercerita dengan bersemangat.
“udah yuk kebawah” pintaku pada Lia, ini kulakukan untuk menghentikan cerita Lia yang membuat telingaku panas, kini panasnya memulai merambat ke hati. Belum sempat kami kebawah, “hey boleh nimbrung ngga…” suara kehadiran Andika membuatku kaget setengah mati, suaranya terdengar bergetar.
“Boleh” dengan cepat Lia menjawab.
“maaf Tiara, boleh pinjem Lia sebentar” Andika meminta ijin, tanpa menunggu jawaban dariku dia menarik tangan Lia, mereka begitu dekat dan terlihat amat mesra. Tak tahan melihat kedekatan mereka, aku langsung berlari turun menuju kamarku. Dikamar kuhempaskan tubuhku seolah-olah aku menghukum diriku sendiri, air mataku tak terbendung lagi, menyesali semua yang terjadi.
Entah berapa lama mereka di balkon tanpa kehadiranku, Lia memang sudah memperlihatkan ketertarikannya sejak pertama lihat Andika sementara aku masih menaruh dendam padanya, aah benar kata Mama jangan terlalu benci nanti berubah cinta. Seketika samar-samar kudengar bapak-bapak menyanyikan lagu nostalgia kepunyaan Ebiet G Ade, “Sedang kau diciptakan, Bukanlah untukku itu pasti, Tapi aku tak mau peduli, Sebab cinta bukan mesti bersatu, Biar kucumbui bayangmu, Dan kusandarkan harapanku”, lagu itu mengiringi jatuhnya tetesan air mata penyesalanku.
***
Sebenarnya pagi ini indah dan cerah. Udaranya pun sangat sejuk belum banyak polusi yang menyebar seperti di Jakarta. Tapi udara sejuk yang kuhirup berubah panas didadaku, berulang-ulang kuganti isi dadaku dengan menarik nafas panjang tetap saja sama, rasanya panas dan menyesakkan, ingin rasanya aku segera kembali pulang, tapi siapa yang bisa kuajak pulang. Lia pasti sangat menikmati suasana ini, Mama dan Papa ngga mungkin, apalagi karena Papa ketua panitia dalam reuni ini.  Aah dari awal aku menduga bila ada Andika pasti hanya penderitaan yang ku dapat, dan Lia kini tak lagi menghadirkan kenyamanan bagiku.
Hari ke dua ini jadwalnya adalah kegiatan ditampat wisata outbond. Semua anak pergi bermain ke wisata outbond, para orang tua yang mempunyai anak kecilpun ikut mendampingi. Objek Wisata itu tidak jauh dari Vila, kira-kira 500 meter jadi dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Di dalamnya ada berbagai macam permainan. Sebenarnya aku tidak tertarik untuk ikut dan ingin sendiri di vila yang besar ini, tapi Lia memaksa & aku tak ingin Lia curiga kenapa aku tak bersemangat, ditambah lagi Gilang yang ingin pergi berasamaku. Akhirnya dengan berat hati aku terpaksa ikut. Aku hanya berharap semoga Andika ngga ikut atau paling tidak aku nggak bertemu dengannya disana.
“Kak Tiala ikut ya” kata Gilang sambil menarik-narik celanaku.
“iya kakak ikut” ku peluk gilang erat-erat seolah aku ingin mengadukan nasibku padanya.
Sekian banyak permainan tak ada satupun yang menarik untukku. Sudah ku bilang pada diriku sendiri bahwa aku tak ingin disini, aku hanya berdiri bersandar dipagar sambil memperhatikan Gilang bermain di arena balita.
Setelah puas di arena balita Gilang mengajakku ketempat lain, gerakan Gilang yang lincah membuat aku terengah-engah mengejarnya.
“Gilang awas jangan kesana” teriakku ketika gilang menuju jalan setapak yang agak mendaki, aku melompat mengejarnya khawatir jika dia terperosok, “kena kamu!” kataku sambil menangkap pinggangnya dari tempat yang lebih rendah, gilang meronta sekuat tenaga sambil tertawa terkekeh-kekeh. Sebelah kaki kiriku menahan tubuhku dengan ujung jari ditempat yang lebih rendah sedang kaki kananku menahan beban tubuhku dengan lutut didataran yang lebih tinggi, posisiku amat sulit sementara tanganku tak bisa menjaga keseimbangan karena memegang tubuh Gilang yang meronta ronta akhirnya aku terjungkal kebelakang. Aku tersentak kaget jantungku terasa copot, “hap” untungnya seseorang menahanku dari belakang sehingga tubuhku dan tubuh Gilang tidak jadi terhempas.
“Aduh, terima kasih” kataku sambil menurunkan tubuh Gilang yang kemudian mulai berlari lagi menuju pengasuhnya tak jauh dari situ.
“Hati-hati Tiara” celetuk penyelamat tadi dibelakangku. Aku tersentak kaget, suara ini milik…Andika! Aku melihat kebelakang ternyata benar Andika yang telah menangkapku. “kamu ngga apa-apa kan?”.
“ngga, aku ngga apa-apa, cuma kaget”
“dari tadi aku disekitar sini, aku berlari kearahmu ketika kamu berteriak mengejar Gilang” jelas Andika “beruntung aku bisa menolongmu, udah lama kutunggu untuk menebus kesalahanku dulu, kamu maukan maafin aku?” lanjut Andika pelan.
what?! What happening here?!” hatiku berteriak. Aku tak bisa menghentikan senyumku, aku menganguk mengiyakan permintaannya. Andika mengambil tanganku mengulangi permintaan maafnya, aku hanya diam ketika tanganku lama digenggamnya, jantungku jadi bekerja lebih cepat, rongga dadaku menjadi lebih sejuk, sejenak kurasakan bahagia, sampai seketika aku teringat…..Lia. Kutarik tanganku dan kuarahkan pandanganku kesemua penjuru mencari Lia. Aku khawatir ia melihat adegan tadi. Bukankah itu Lia yang berdiri tak jauh diseberang area ini memandang kearah kami sepintas dia seperti tersenyum tapi aku tak yakin dengan pandanganku, kemudian dia memalingkan wajah kearah lain, tak lama kemudian menatap kami lagi dan kali ini aku yakin 100% dia tidak tersenyum,  pasti dia melihatnya. Aku mencoba melambaikan tangan padanya, tapi Lia membalas dengan menghentakkan kaki dan berlari meninggalkan kami. Aku menunduk sedih, pikiranku kembali tak karuan, senang, sedih & takut, berbaur saling tumpang tindih.
”bagaimana ini?” keluhku.
“ada apa?” Andika tak mengerti.
“Lia tadi lihat kita, aku takut dia salah paham” kataku dengan parasaan takut.
“mana? Aku ngga liat” kata Andika menyapukan pandangannya.
“tadi dia berdiri dibalik punggungmu, tiba-tiba dia lari turun kearah pintu keluar” jelasku khawatir. “coba kamu kejar dan jelasin apa yang terjadi” pintaku
“nanti aja, aku masih pingin sama kamu” kilahnya
“tolong Andika, Lia sahabatku jaga perasaannya” pintaku lagi, Andika seperti bingung antara tetap bersamaku atau lari mengejar Lia.
“Ya udah untukmu segalanya akan kulakukan” kata Andika sambil pergi mengejar Lia. Aku tertegun mendengar kata terakhir Andika.
***
Sore, ini kulihat bapak-bapak sibuk menyiapkan acara nanti malam, anak-anak berlarian sambil berteriak kesana kemari, sedang ibu-ibu asik ngobrol ngalor-ngidul. Kemana Lia dan Andika? Sejak kejadian tadi siang Lia selalu menghindar dariku sedang Andika selalu berusaha mendekatiku namun aku menghindar darinya meski sebetulnya hati berbeda dengan tindakan, kutahan segala rasa yang ada untuk kebaikan persahabatanku dengan Lia
Aku duduk disalah satu ayunan didepan taman vila dengan harapan bisa menghilangkan gundah hatiku. Tiba-tiba aku tersentak mendengar teriakan anak-anak yang berlarian, “berdua aja kak Dika?”, seru sabagian anak “berempat sama bayangan” seru anak yang lain, anak-anak itu pasti sedang menggoda Andika tapi dimana dia? mataku mencari-cari keberadaannya yang ku yakin bersama Lia, ya itu mereka berduaan di saung yang tidak jauh dari tempatku duduk, mereka membelakangi posisiku berada. Sehingga aku yakin Lia dan Andika tak melihat keberadaanku. Apa yang mereka bicarakan pikirku, mereka terlihat seperti berbisik-bisik. Ingin aku segera beranjak namun aku takut gerakanku akan mereka ketahui tapi diam disinipun lama-lama mereka pasti tau. Akhirnya kuputuskan untuk pergi menjauh dari mereka. Perlahan-lahan aku beranjak dari ayunan namun suara Andika menghentikan langkahku  “Tiara sini” dengan cepat ia melangkah menghapiriku tangannya mengandeng tanganku menuntunku kearah saung.
Kutarik tanganku dari genggaman Andika “biar aku jalan sendiri” bisikku.
“Ayo Tiara duduk” pinta Andika. Aku memilih duduk disamping Lia menjaga jarak dari Andika “kita kan disini bertiga paling dewasa diantara yang lain” Andika mencoba memulai pembicaraan “jadi langkah baiknya kita bertiga kompak” lanjut Andika. “kamu pasti dengarkan adik-adik kita teriak meledek Aku dan Lia karena duduk berdua-duaan” lanjut Andika. Itu sudah resiko orang yang pacaran di acara reuni kataku dalam hati sambil terus menunduk. Sementara Lia terus mengayun-ayunkan kakinya dengan pandangan mata lurus kedepan. Aku jadi risih duduk disamping Lia yang bersikap dingin padaku tak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya, ini sangat menyiksa batinku. Air mata mulai menggenangi mataku, kutengadahkan wajahku agar jangan sampai meleleh.
“Tiara, bukannya kamu udah memaafin aku?” Andika memastikan.
Kuanggukkan kepala sambil menahan isak, tapi kali ini air mataku benar-benar meleleh. Cukup! Sambil terisak aku berlari meninggalkan Andika dan Lia, “ Tiara!” terdengar jelas Andika & Lia memanggil namaku bersamaan.
Aku terus berlari menjauhi vila, karena berlari kedalam vila khawatir mereka mendapatiku menangis, aku tak mau jadi bahan pembicaraan, aku tak mau dipermalukan untuk yang kedua kalinya seperti 5 tahun. Langkahku kuhentikan dibawah temaram lampu yang berjarak 300m dari vila aku duduk dikursi taman yang disediakan untuk para pejalan kaki yang kelelahan tepat dibawah pohon mahoni, bila siang tentu tempat ini sangat rindang tapi saat ini malam kira kira pukul 18.00 sinar lampu benjadi redup terhalang rimbunnya pohon. Kuseka air mataku kuatur nafasku untuk menghilangkan sisa tangisanku.
“Tiara…” suara Andika lembut memanggilku, aku menoleh kearah datangnya suara kulihat Andika menghampiriku sementara ditempat yang lebih jauh Lia menghentikan langkahnya dan berbalik melangkah kearah vila, kenapa Lia meninggalkan aku berdua dengan Andika, Lia pasti cemburu dan ini akan menjadi masalah lagi.
“Ada apa sebenarnya antara kita bertiga?” suaranya  penuh penyesalan, merasa diperhatikan isakkanku makin tak terbendung. Andika membiarkan aku menyelesaikan tangisanku.
“jangan lagi menghindar dariku Tiara” kata Andika sambil menyelimutkan jaketnya dipundakku.
“tapi Lia” selaku parau.
“udah jangan memikirkan Lia terus, Lia ngga apa-apa ko, sekarang pikirkanlah dirimu” kata Andika, aku tak mengerti kata-katanya namun aku tak peduli lagi, kurasa hangatnya rangkulan Andika dipundakku. Kami berjalan mendekati vila, tangannya masih kubiarkan tetap diatas pundakku.
Sesampai di pintu gerbang vila Andika menghentikan langkahku, dia menggenggam kedua tanganku dan menatap mataku dalam-dalam “Tiara aku ingin kita ada saling pengertian” suara Andika bergetar.
“maksudmu?” aku meminta penjelasan dari Andika.
Wajahnya makin terlihat tegang, “Aku…” kata-katanya mengambang, tangannya makin mengenggamku kuat, aku menatapnya penasaran. Dia memejamkan matanya sejenak, menarik nafas, membuka matanya “Aku mencintaimu” jelasnya mantap, Andika kembali membuka mulutnya bertanya perlahan “maukah kau menjadi…..”
“mau” jawabku secepat kilat sambil memeluknya erat-erat, Andika membalas pelukanku. Sambil terus memeluknya kutanya pertanyaan Andika yang belum selesai “menjadi pacarmu kan?” kataku
“bukan menjadi pembantuku” balas Andika sambil tertawa terbahak-bahak inilah kebahagian pertama disaat-saat terakhir reuni Papa.
***
Aku naik ke balkon sambil membawa secangkir kopi susu hangat disana ada Lia yang sedang memandangi pemandangan malam. Aku berdiri disamping Lia, dia hanya diam tanpa melihatku.
“Ra” ia memanggilku suaranya agak parau, aku bahkan hampir tidak mendengarnya, ditambah suara karokean dan riuh dibawah. Aku baru sadar kalau Lia menangis.
“Lia kenapa?” tanyaku hati-hati aku mencoba lebih dekat dengannya.
“ada yang ingin aku bicarakan” ucapan Lia dingin.
“ada apa Lia?” aku penasaran.
“jangan disini lebih baik dikamar biar ngga ada yang tau” jawab Lia sambil bergegas pergi kekamar, aku mengikutinya dari belakang. Perasaanku ngga enak, mungkin ini tentang Andika pikirku. Lia sampai dikamar lebih dulu, gerakannya cepat seolah tak ingin ku susul. Aku segera masuk dan menutup pintu rapat-rapat “ayo Lia katakan ada apa?” kataku memohon.
“aku ingin bertanya dan jawablah dengan jujur, karena selama ini mesti aku selalu jujur dan terbuka padamu tapi kamu belum terbuka dan mempercayai aku sepenuhnya, ini bukan persahabatan yang baik,” Lia sedikit berkotbah. “bila kamu ingin persahabatan ini kita langgeng sekarang mulailah jujur padaku!” ancam Lia, “Tiara benarkah kamu mencintai Andika?” Lia mulai menghakimiku.
“ya” jawabku singkat dan perlahan.
“yang tegas dan lengkap!” hardik Lia.
“Lia apa-apaan sih kamu?” keluhku
“Cepat jawab” serang Lia.
“Ya aku mencintainya” jawabku.
“Benar dia telah menyatakan cintanya dan kamu menerimanya?” pertanyaan Lia menggema lagi.
“ya Andika telah menyatakan cintanya dan aku menerimanya” jawabku berusaha selengkap mungkin.
“apakah kamu bahagia mencintai Andika” Lia bertanya lagi.
“ya aku bahagia mencintai Andika” jawabku pasti. Kulihat Lia mulai menangis “kenapa Lia? Kamu juga harus jujur, kamu juga mencintai Andika kan?” tanyaku.
“ya aku mencintai Andika sebagai teman dan mencintaimu sebagai sahabat” jawab Lia pasti, Lia mengembangkan tangannya. Aku menubruknya dan memeluk erat-erat “Tiara, ada lagi satu pertanyaan yang belum kujawab” kata Lia sambil melepaskan pelukanku.
“Apa?” tanyaku.
“Aku menangis karena terharu dan bahagia” jawab Lia sambil tersenyum kami perpelukan lagi. Tangisku pun tumpah dipelukan Lia.
***
Hari ini waktunya pulang, aku harus mengembalikan jaket Andika yang semalam ku pakai. Aku keluar kamar untuk sarapan, kulihat kasur Lia telah rapih dia bangun lebih dulu dariku.
Aku sudah selesai sarapan namun aku tak melihat Andika juga om Burhan. Jam telah menunjukan pukul 8. Aku juga memperhatikan orang-orang di vila ini berkurang. “Papa, yang lain pada kemana?” tanyaku disatu kesempatan.
“ada beberapa  peserta reuni yang sudah pulang”
“om Burhan ko ngga kelihatan Pa?“
“sudah pulang ikut om Agus katanya ada janji” jawab Papa, “kamu cari om Burhan apa cari Andika?” tanya Papa sambil tersenyum, akupun tersenyum malu.
“Mama mana Pa?“ tanyaku.
“tadi keatas berdua dengan Lia” ada apa Mama berdua Lia tumben amat.
Aku segera beranjak menuju ke atas aku ingin tau mereka sedang apa, dari jarak 10 meter kulihat Mama mameluk Lia.
“terima kasih ya Lia kamu berhasil menjalankan misimu dengan baik” kata Mama. Aku segera sembunyi dibalik pintu balkon kini jarakku dengan mereka hanya 3 meter saja, aku penasaran mereka membicarakan misi apa “tapi kamu kebablasan Lia, tante hanya minta mereka baikan bukan jadian” kata Mama sambil tertawa.
“itu bonus tante buat Tiara sahabatku” kata Lia.
Kini Aku berdiri tegak bagai patung didepan mereka mataku membelalak tanda marah “jadi ini biang keladinya” kataku.
“dengar dulu penjelasan Mama” sahut Mama khawatir.
“masud kami baik Ra” Lia berusaha menenangkanku.
“Papamu dengan om Burhan kan bersahabat, mereka selulu tolong menolong dalam kesulitan, ironis kan jika anaknya bermusuhan, makanya Mama dan Lia menyusun strategi untuk mendamaikan kamu dan Andika” Mama menjelaskan dan berharap aku mengerti.
“Jangan-jangan Andika turut terlibat?” selidikku
“jangan bawa-bawa Andika, Tiara! dia ngga bersalah, Andika emang sudah lama menyukaimu” Mama mencoba membela Andika.
“kalian semua mempermainkan aku!” kataku dengan air mata yang hampir meleleh. Ku lihat Mama dan Lia semakin khawatir “sekarang kalian lihat mataku dan jawab pertanyaanku” pintaku “Apakah aktingku bisa menandingi akting Lia?“ tanyaku sambil tersenyum, tawaku pun meledak melihat mereka bingung.
“Tiara!” Mama dan Lia berteriak memanggilku serta menyerbuku, kami bertiga berpelukan. Pelukan kami berhenti ketika suara tepuk tangan membahana di balkon ukuran 5x5 ini, kulihat Papa, om Burhan dan Andika berdiri sambil terus bertepuk tangan “aah kalian semua jahat” kataku sambil tersipu malu.
Dalam hati ku berdoa Ya Allah bahagiakanlah mereka yang mencintaiku dengan tulus.

No comments:

Post a Comment

 
Powered by Aishi♥