14 May 2016

Sang Gadis Pendosa dan Kerlipnya



Kembali melewati jalan setapak yang sama.
Sebuah kenangan yang terlampau mengiris waktu.
Berupaya menguap paksa sang air mata.
Memberikan rasa malu pada ilalang di seberang.

Benalu itu mencoba membenci dirinya sendiri.
Hatinya tak terpisahkan tapi juga tak melekat.
Hatinya menahan kuat tapi juga serapuh Dandelion.
Hatinya gelap pekat tapi juga punya satu kerlip cahaya.

Dialah sang benalu, dialah seorang gadis pendosa.
Meskipun langit gelap, satu kerlip cahaya tak pernah menyerah.
Kerlip yang tak menaruh curiga pada gelap yang dapat menelannya.
Sebuah kerlip yang egois bermain adu dengan delusi.

Langkahnya dihentikan burung gagak yang bertengger ditepi dahan rendah.
Matanya yang suram juga kelam menusuk sang gadis dengan tangis.
Tanpa ia sadari burung gagak membawa terbang kerlip sang gadis.
Tangisan palsu seekor burung gagak menjatuhkannya ke jurang kegelapan.

“Kepada langit nan jauh.
Kumohon berikan aku satu kerlip kecil untuk ku genggam.
Agar gelap tak melahapku disini.”
Sang gadis pendosa meringkuk ditelan sepi.

No comments:

Post a Comment

 
Powered by Aishi♥