24 October 2017

Aku, Gelora, Rasa, dan Angan


Aku selalu benci dengan kerumunan.
Hari itu tak sengaja menemukanmu di tengah kerumunan.
Kemudian aku bersembunyi dibalik kerumunan, sibuk menatapmu.
Berusaha tidak mengundang perhatianmu.
Namun di titik butamu itu, kau berhasil menemukanku.
Tubuhku kaku.

Semenjak hari itu, mata kita selalu bertemu, sekejap, lalu berakhir.
Tak ada sapa. Tak ada kata. Tatap dan senyum menjadi bahasa kita.
Apa kau pernah melihat bintang jatuh?
Aku pernah mencarinya.
Kan kuberitahu kau sesuatu.
Tatapmu itu serupa bintang jatuh.
Aku menunggunya. Sangat lama. Dan hanya bisa dinikmati sekejap saja.
Namun saat aku melihatnya, senyumku mengembang.
Aku kecanduan.

Kemudian, di hari lain.
Dimana kita bertemu diluar kerumunan.
Dan kau sukses membuatku mengukir senyum di sepanjang hari itu.
Hanya karena sebuah sapa sederhana.
Apa aku telah melewati garismu?
Atau garis ini hanya ilusi dari luasnya jarak kita?
Bolehkah aku sedikit egois dan mencoba mencurangi jarak kita?
Senyummu itu membuatku serakah.

Beribu tanya muncul disebelum malam tidurku.
Mengapa? Apa semua ini hanya sebuah kebetulan?
Bila ini hanyalah sebuah kebetulan.
Betapa kejamnya sang kebetulan menyeret kita berkali-kali.
Detak berlebih karenamu ini tidak baik untuk jantung dan anganku.
Kemudian aku berakhir terlelap tanpa menemukan jawab.
Dan kembali lagi pada pagi dengan tatap dan senyum kecilmu.

No comments:

Post a Comment

 
Powered by Aishi♥